- Jika kita selalu melihat kesalahan orang lain maka kita melupakan
keharusan untuk memperbaiki diri sendiri ( MTOF : What are you still blaming
?)
- Sebetulnya, sebuah kesulitan tidak berniat untuk menyulitkan diri Anda,
dia hanya ingin mengungkapkan kualitas Anda yang sebenarnya (MTDB; Measured
by Reaction )
- Keberhasilan hanya menuntut bahwa saya melakukan yang bisa saya lakukan,
karena sampai disitulah kewenangan saya , semakin saya tulus untuk menjadi
yang terbaik dalam yang bisa saya lakukan, alam akan menjadi semakin sigap
melakukan hal - hal yang tidak bisa saya lakukan bahkan tanpa menunggu
permintaan bantuan dari saya (MT – I will be flying high)
Seringkali kita lebih bereaksi atas yang kita alami daripada berinisyatif
melakukan sesuatu padahal kualitas kehidupan kita tergantung kualitas reaksi
.
- Untuk dapat memperbaiki kualitas hidup , kita perlu memperbaiki kualitas
reaksi kepada lingkungan karena kualitas reaksi sejajar dengan kualitas
kedewasaan kita.
Dalam bereaksi yang penting bukanlah kecepatannya melainkan ketepatannya.
Banyak orang hanya menyesuaikan dirinya kepada keadaan . Contoh : reaksi
atas keterbatasan keuangan hanya dilakukan dengan berhemat tanpa melakukan
usaha meningkatkan pendapatan.
- Bagaimana harus bersikap kepada perusahaan yang tidak menghargai dengan
semestinya, tetapi perusahaan itu sangat membutuhkan kita ? Janganlah terus
berpura-pura. Berhentilah menutupi keadaan yang sesungguhnya dengan sikap
sungkan kepada pemilik perusahaan yang tidak memuliakan. Apalagi yang Anda
tunggu ?
- Dalam diri ada kontradiksi yang besar, bagaimana menyikapinya ? Hasil
kerja yang baik akan diperoleh orang yang dalam dirinya ada kontradiksi yang
besar. Kebingungan yang ada itu akan menyebabkan dinamisme. Yang berbahaya
adalah orang sama sekali tidak memiliki kontradiksi dalam dirinya. Sekarang
apa yang akan Anda lakukan untuk mengambil pilihan yang baik dari yang ada.
Jadikanlah dirimu pantas untuk diberi.
- Bagaimana dapat bereaksi anggun atas keadaan apapun yang dialami ?
Mampu bereaksi anggun itu tidak ada hubungannya dengan pribadi yang anggun.
Yang penting adalah mengupayakan keanggunan secara berkelanjutan dalam
kehidupan kita yaitu dengan mulai dari : sikap hormat dan kasih sayang .
Love is respect, artinya dengan melakukan kasih sayang dan hormat , kita
akan mendapatkan sikap yang anggun.
- Kedewasaan itu merupakan keterampilan / skill. Kita akan trampil mulai
dari : menunda kemarahan, memilih kata-kata yang baik, menentukan waktu yang
tepat untuk bicara dan waktu untuk diam dan berapa lama harus diam. Latihan
itu semua membutuhkan waktu.
- Kedewasaan bukan terjadi karena lamanya waktu yang sudah dilewatinya
melainkan dari penggunaan waktu yang baik. Berarti kita perlu melatih diri
untuk meningkatkan kemampuan yang ada.
- Bagaimana dengan pengalaman masa lalu yang kurang mendapat kasih sayang
dari orang tua ? Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penyayang akan
menjadi pribadi yang penyayang. Orangtua yang suka membentak-bentak akan
menimbulkan resiko emosional. Kalau kita dimasa lalu kurang mendapat kasih
sayang maka perlu belajar sesuatu yang baru. Putuskan diri untuk menjadi
pribadi yang penyayang karena keseluruhan konstruksi Ke Tuhanan adalah kasih
sayang.
- Ilmu tidaklah sepenting bagaimana kita menggunakan ilmu itu. Dua orang
yang lulusan akademi yang sama akan menjadi pribadi yang sangat berbeda
tergantung bagaimana menyikapi perjalanan hidupnya.
- Bagaimana menyikapi ketidak mampuan untuk berubah ? Mungkin kita tidak
cukup jengkel dengan diri yang sulit berubah, tetapi membuat orang lain yang
jengkel. Bagaimana bila kita berubah bukan karena sudah dapat PHK, karena
masalah besar terjadi tetapi mampu berubah karena jatuhnya biji merica ?
Berubahlah karena pengertian baik.
- Kepada siapa kita harus bergantung ? Mengapakah kita bergantung pada
sesuatu yang rendah seperti : dukun, ukuran pintu dan orang lain ?
Bergantunglah hanya kepada Yang Maha Tinggi. Maka Anda akan mendapatkan
keberhasilan.
- Menghadapi orang yang sulit untuk dinasehati, mungkin perlu dilakukan
rude awakening / dibangunkan dengan cara yang keras . Jadilah pribadi yang
mampu menasehatkan dari dua sisi.
- Nasib baik akan datang kepada pribadi yang memiliki kesiapan dan
kesempatan. Pribadi yang membangun kesiapan akan menjadi pribadi yang siap.
Untuk semua pribadi yang siap Tuhan akan memberi tugas. Jadi kalau kita
siapkan diri menjadi pribadi yang berkualitas maka kesempatan itu akan ada.
Wajah kesempatan itu bisa dari : banjir, atasan yang tidak adil. Situasi ini
mengharuskan kita membuat keputusan dan ini adalah kesempatan.
- Waktu kita bereaksi dalam masalah yang dihadapi ,keputusan diambil. Bila
sudah terlatih dalam membuat keputusan yang baik maka dalam masalah apapun
yang terjadi keputusan yang diambil baik. Bahkan untuk mencapai
tempat-tempat yang tinggi kita disaring melalui kesulitan-kesulitan.
- Dalam pernikahan tidak ada batas dalam kesabaran. Menghadapi isteri yang
memberangkatkan suaminya dalam keadaan lapar dan belum bangun, perlu
ketegasan dari suami. Boleh marah tetapi saat bicara dari sudut pandang
orang yang menyayangi. Awali segala sesuatu dari kasih sayang maka kita akan
memiliki kondisi hidup yang baik.
- Bagaimana bila mudah menyayangi orang lain ? Dynamit, sensitif bila
disulut ke peledaknya, begitu juga bensin, sensitif, mudah terbakar. Semua
yang hebat itu sensitif untuk itu pengelolaan harus baik. Minyak kelapa
tidak sensitif tetapi karenanya tidak bisa digunakan sebagai bahan bakar
Formula . Sensitif penting sekali untuk kualitas hebat. Mudah menyayangi itu
hebat , tetapi bila dibungkus dengan dengan mesin Bajaj tidak akan jadi
apa-apa, akan lain jadinya bila dibungkus dengan mesin Ferrari.
- Bagaimana menyikapi kualitas hubungan dengan suami yang berubah ? Semua
hubungan berubah, akan menjadi baik atau buruk tergantung dari
pemeliharaannya. Langkah yang perlu dilakukan, ambil tugas pertama dalam
mengelola keluarga. Ada banyak wanita yang membuat suaminya malu untuk
tampil lemah dihadapannya. Jadi periksalah dulu / introspeksi apakah Anda
punya peran dalam pemeliharaan hubungan itu.
- Kualitas yang perlu dimiliki bagi pemimpin Indonesia dimasa yang akan
datang : Jujur, Tegas dan Pandai. Tidak masalah -siapapun yang akan menjadi
pemimpin.
- Kedewasaan ditandai dengan kualitas reaksi dan semua itu timbul dari
kebiasaan. Habits are trained reactions. Tidak ada perubahan kualitas dari
orang yang tidak memperbaiki kualitas sikapnya. Untuk itu perlu melakukan
fokus kepada 4 hal penting dibawah ini :
1. Fokus pada yang baik.
2. Fokus pada peningkatan, bukan pengurangan.
3. Fokus pada sumbangsih kita kepada orang lain.
4. Fokus pada meneruskan kualitas masa depan yang lebih baik, perlu dimulai
hari ini yang lebih baik.
Selamat Berjumpa
Selamat berjumpa dengan saya Kusyandi, bagi Anda yang ingin tahu lebih jauh tentang saya silangkan telusuri blog personal ini.
Terima kasih atas kunjungannya.
Terima kasih atas kunjungannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar